Satu-satunya Pria Tampan

Satu-satunya Pria Tampan

Sunday, October 15, 2017

Sejarah Berdirinya Nahdlatul 'Ulama'

Sejarah Berdirinya NU
Guna Memenuhi Tugas pada
Mata Kuliah : Sejarah Kelembagaan Islam Indonesia
 












Dosen Pembimbing :
Prof. Syafiq Mughni

Disusun Oleh :
Miftakhus Sifa' Bahrul Ulumiyah (A92216131)
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
TAHUN 2017-2018


KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang, kami panjatkan puju syukur kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah nya kepada kami sehingga kami dapat  menyelesaikan makalah tentang Latar Belakang Berdirinya NU dengan semaksimal mungkin.
            Makalah ini kami susun sebaik mungkin melalui berbagai referensi berupa buku dan jurnal, dengan harapan semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan, pengalaman serta memperluas wawasan pagi para pembaca tentang Latar Belakang Berdirinya NU. Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, sebagai manusia biasa yang tak mungkin luput dari kesalahan, kami sangat mengharapkan saran dan keritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.


Surabaya, 27 September 2017


Penulis








BAB I
PENDAHULUAN
Nahdatul Ulama adalah salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia. Selama abad ke-19 Indonesia mengalami efek pengaruh Barat yang membawa akibat ganda sekaligus yaitu perubahan politik dan kemerosotan ekonomi yang semakin buruk. Keterbelakangan baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan "Kebangkitan Nasional". Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan seperti NU, dan Muhammadiyah.
Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu organisasi sosial keagamaan di Indonesia yang pembentukannya merupakan kelanjutan perjuangan kalangan pesantren dalam melawan kolonialisme di Indonesia.










BAB II
PEMBAHASAN

Nahdlatul Ulama (NU) sejak kelahirannya merupakan wadah perjuangan untuk menentang segala bentuk penjajahan dan merebut kemerdekaan negara Republik Indonesia dari penjajah Belanda dan Jepang, sekaligus aktif melakukan dakwah-dakwahnya untuk senantiasa menjaga kesatuan negara Republik Indonesia dalam wadah NKRI. Bagaimana NU dalam peranannya yang begitu besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, mempertahankan keutuhan NKRI dapat dilihat atas latar belakang lahirnya ormas terbesar di dunia Nahdlatul Ulama (NU).
Pembahasa makalah ini beranjak dari situasi dunia khususnya dunia Islam yang sedang mengalami ketertinggalan dengan bangsa Barat. Imperialisme dan kolonialisme dirasakan sangat menyiksa keadaan umat saat itu. Hal itu menimbulkan berbagai gerakan pembaruan untuk menyejahterakan umat seperti gerakan pembaruan Jamaluddin Al Afghani di Mesir, Sayyid Ahmad Khan di India sedangkan di Indonesia sendiri muncul berbagai organisasi pembaruan umat seperti Budi Utomo (20 Mei 1908), dan organisasi keislaman seperti Syarikat Islam (11 November 1912), dan Muhammadiyah (18 November 1912). Di Indonesia sendiri sebenarnya telah terdapat berbagai pemberontakan melawan kolonialisme termasuk juga dari kalangan pesantren, yang mana pada saat itu pesantren telah tersebar luas di Indonesia dan juga menjadi salah satu basis perlawanan terhadap penjajahan Belanda.
Cikal bakal Nahdlatul Ulama berangkat dari pesantren dan perjuangan akan lahirnya organisasi NU ini tidak bisa lepas dari sosok tokoh KH Wahab Chasbullah. Kyai Wahab Chasbullah adalah seorang santri dari KH Hasyim 'Asy' ary Tebu Ireng Jombang. Setelah belajar kurang lebih 4 tahun beliau diutus untuk menimba ilmu di Makkah pada tahun 1908 yang pada tahun itu juga bersamaan dengan didirikannya organisasi Budi Utomo. Pada waktu di Makkah Pada waktu di Makkah KH Wahab ini mendirikan Syarikat Islam cabang Makkah. Setelah 5 tahun menimba ilmu di Makkah beliau pupang ke Indonesia dan aktif di organisasi Syarikat Islam bersama KH Mas Mansur yang bertempat di Surabaya. Bersama KH Mas Mansur pula KH Wahab Chasbullah juga mendirikan sebuah wadah pergerakan sosial umat untuk membela tanah air yang dinamakan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916. Organisasi Nahdlatul Wathan pada perkembangannya berubah nama menjadi Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) pada tahun 1918. Syubbanul Wathan inilah pada periode selanjutnya melatarbelkangi Gerakan Pemuda Ansor. KH Wahab adalah seorang pejuang umat yang sangat aktif. Di samping mendirikan  Nahdlatul Wathan beliau juga mendirikan organisasi Nahdlatut Tujjar atau sebuah lembaga Koperasi dagang yang beranggotakan 7 orang Kyai di dalamnya yang bertujuan untuk membantu perekonomian umat di masa itu. Selain itu pula KH Wahab Chasbullah juga mendirikan forum diskusi yang diberi nama Tashwirul Afkar / Nahdlatul Fikri. Tashwirul Afkar ini membahas seputar masalah-masalah agama yang nantinya Tashwirul Afkar / Nahdlatil Fikri ini menjadi cikal bakal Bahtsul Masail di kalangan NU.
Kembali lagi membahas situasi dunia Islam kala itu. Ketika runtuhnya kekhalifahan Turki Ustmani dan dikalahkannya kekuasaan Turki Utsmani di seluruh Hejaz pada masa pemerintahan Syarif Kasim oleh paham Muhammad bin Abdul Wahab yang dipimpin oleh Ibnu Sa'ud 1924 semenjak saat itu dunia Islam lebih bernuansa puritan dengan pembaharuan Islam secara frontal. Kekuasaan Ibnu Saud di Saudi Arabia ini ingin memberlakukan kembali satu kekhalifahan Islam di seluruh dunia. Akhrinya membuat sebuah pertemuan dengan tokoh-tokoh Islam dunia dengan mengusung proyek Comite Khilafat. Sebenarnya hal yang mendasari terbentuknya Nahdlatul Ulama swndiri berawal dari Kongres Islam di Al Islam di Jogjakarta pada 1925. Ketika itu semua anggota Kongres mewakili organisasi yang bersifat modernis dan cenderung cocok dengan gerakan purifikasi islam di Saudi Arabia. Namun dari kalangan pesantren yang diwakili KH Wahab Chasbullah tidak setuju dengan gerakan purifikasi islam dan antitradisi. Hal ini wajar karena kebanyakan kalangan pesantren dalam ciri khas islamnya lebih kental dengan tradisi lama. Kalangan pesantren pula juga tidak dapat diabaikan begitu saja karwna pesantren di seluruh Indonesia juga ikut berperan dalam perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Namun akibat perbedaan sikapnya tersebut kalangan pesantren dikeluarkan dari keanggotaan Kongres dan tidak diikutsertakan dalam Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam Internasional) 1926 di Makkah.
Akibat dari pengeluaran tersebut KH Wahab Chasbullah mengadakan pertemuan sendiri gurunya KH Hasyim Asy' ary dan berbagai Kyai di Jawa dan Madura. Pertemuan itu berada di Kertopaten Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344 H / 31 Januari 1926. Pertemuan itu membahas 3 hal penting yaitu meresmikan Comite Hejaz sebagai delegasi ke Arab Saudi, membentuk jam'iyyah wadah persatuan ulama, dan membatasi masa kerja Comite Hejaz.
Misi Comite Hejaz adalah sejumlah permohonan yang ingin diajukan kepada Raja Saud antara lain:
1. Memohon kebebasan bermadzhab
2. Memohon agar tetap menjaga warisan peninggalan sejarah yaitu makam Nabi dan sahabat. Karena ketika itu tidak diindahkan akan menuai kecaman dari uamt Islam seluruh dunia.
3. Memohon agar tarif haji diberitahukan tiap tahun ke seluruh dunia.
4. Memohon agar seluruh hukum di Hejaz ditulis.
5. Memohon balasan dari Raja Saud.
 Yang menjadi delgasi Comite Hejaz untuk berangkat menemui Raja Saud adalah KH Wahab Chasbullah dan KH Asnawi, namun tidak jadi berangkat karena tertinggal kapal dan bersamaan dengan musim haji. KH Wahab Chasbullah mengirim mosi aspirasi kepada Raja Saud melalui telegram. Dan 2 tahun setelahnya yaitu pada tanggal 10 Mei 1928 / 20 Dzulqo'dah 1346 KH Wahab Chasbullah bersama Syaikh Ahmad Ghonaim berangakt ke Saudi dan berhasil menemui Raja Saud. Akhirnya Raja Saud pun menjamin kebebasan bermadzhab khususnya di Makkah dan mengurungkan niat untuk menggusur makam Nabi dan para sahabat.
Pada pertemuan di Kertopaten Surabaya tersebut selain membahas Comite Hejaz juga membentuk organisasi sebagai wadah para ulama yang diberi nama Nahdlatul Ulama. Nama tersebut diusulkan oleh KH Alwi Abdul Aziz, sedangkan penwntuan lambang diserahkan kepada KH Ridwan Abdullah. Susunan kepengurusan NU sebagai berikut:
Rais 'Am: KH Hasyim Asy'ari (Jombang)
Wakil Rais: KH Dachlan Achyad (Surabaya)
Katib: KH Abdul Wahab Hasbullah (Surabaya)
Naibul Katib: KH Abdul Halim (Surabaya)
' Awan: KH Alwi bin Abdul Aziz (Surabaya)
Mustasyar: KH Muh. Zubair
Tanfidziyah: H Hasan Bipo
Organisasi Nahdlatul Ulama ini diharapkan sebagai wadah untuk mengumpulkan para ulama di dalam satu suara. Ketika para ulama telah bersatu maka para umat pun akan mudah diakomodir sehungga menciptakan masyarakat yang damai sejahtera. Setelah Nahdlatul Ulama ini terbentuk maka KH Hasyim Asy’ari mengarang kitab Qanun Asasi (prinsip-prinsip dasar). Kitab ini digunakan sebagai undang-undang Nahdlatul Ulama dalam melaksanakan tugas-tugas dan visi misinya.



DAFTAR PUSTAKA
Bruinessen. Martin van. 1994. “NU”. Yogyakarta : LKIS Yogyakarta

 Haidar, M. Ali, Nahdatul Ulama dan Islam di Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 1994

Thursday, October 12, 2017

Nisan Malik Ibrahim Gresik Jawa Timur



Foto Nisan Malik Ibrahim

الله لااله الاهوالحي القيوم لا تأخذه سنة ولانوم له مافى السموات ومافى الارض من ذالذى يشفع عنده الاباذنه يعلم مابين ايد يهم وماخلفهم ولايحيطون بشيء من علمه الابماشاء ويع كرسيه السموات والارض ولايؤده حفظهماوهوالعلى العظيم

كل نفس ذائقة الموت وانماتوفون أجوركم يوم القيمة فمن زخزح عن الناروادخل الجنة فقد فازوماالحياة الدنيا الامتاع الغرور

كل من عليها فان ويبقى وجه ربك ذوالجلال والاكرام.

لااله الاالله محمد رسول الله

بسم الله الرحمن الرحيم

يبشرهم ربهم برحمة منه ورضوان وجنات لهم فيها نعيم

مقيم. خالدين فيهاأبدا. ان الله عنده اجرعظيم

هذاقبرالمرحوم المغفرله الراجى الى رحمة الله تعالى

مفخرالامراءعمدة السلاطين والوزراء والغيص المساكين والفقراء

السعيد الشهيد تراز بها الدولة والدين ملك ابراهيم المعروف ببركات

تغمده الله بالرحمة والرضوان واسكنه فى دارالجنان تو فى يوم.

الاثنين الثانى عشرمن ربيع الاول سنة اثني وعشرين وثما نما ئه


Terjemahan
1.       Allah itu, tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang hidup, yang berdiri dengan sendirinya. Tidak tersentuh oleh rasa kantuk dan tidak pula (oleh) tidur. Kepunyaan-Nya lah apa yang ada di langit dan di bumi. Bukankah tidak ada siapapun yang dapat memintakan syafaat di hadapan-Nya, melainkan dengan idzin-Nya? Ia mengetahui apa yang ada di depan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang mereka tidak meliputi (tidak mampu menjangkau) sedikitpun dari pada ilmu-Nya kecuali apa yang dikehendaki oleh-Nya. Pengetahuan-Nya meliputi langit dan bumi tiada berat baginya menjaga keduanya. Dai maha tinggi lagi maha besar.
2.       Tiap-tiap jika akan merasai mati dan tidak akan disempurnakan balasan kamu melainkan pada hari kiamat. Karena itu, barang siapa dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke surga, maka selamatlah ia, karena penghidupan yang rendah ini tidak lain melainkan menipu.
3.       Tiap-tiap yang ada di atas (bumi) itu akan binasa. Tetapi diri Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan akan kekal adanya.
4.       Tidak ada Tuhan melainkan Allah, Muhammad itu utusan Allah.
5.       Dengan nama Allah, maha pemurah lagi maha pengasih.
6.       Tuhan mereka memberi kabar gembira dengan rahmat dari pada-Nya, keridhoan dan surge bagi mereka di dalamnya memperoleh nikmat yang kekal.
7.       Hal keadaan mereka kekal adanya selama-lamanya karena di sisi Allah pahala yang besar.
8.       Ini kubur almarhum (yang dirahmati) almaghfur (yang diampuni) baginya mengharapkan memperoleh rahmat Allah Ta’ala.
9.       Guru yang dibanggakan oleh para pangeran (pembesar): tempat bersandar (tempat mohon nasehat) para Sultan (Adipati) dan para Wazir (Patih-Pejabat), penyantun fakir miskin.
      Assa’id asy-Syahid yang disanjung-puji baik dalam lapangan pemerintahan maupun agama Malik Ibrahim yang dikenal dengan Almuhasibiy (?)
11.   Kedua, mudah-mudahan tercurah-limpahkan kepadanya rahmat dan ridho Allah dan mudah-mudahan ditempatkan dia di dalam surga : pada hari

12.   Senin 12 Robi’ul Awwal tahun 822.