Sejarah Berdirinya NU
Guna Memenuhi Tugas
pada
Mata Kuliah : Sejarah
Kelembagaan Islam Indonesia
Dosen
Pembimbing :
Prof. Syafiq Mughni
Disusun
Oleh :
Miftakhus Sifa' Bahrul Ulumiyah (A92216131)
FAKULTAS
ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
TAHUN
2017-2018
KATA
PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang
maha pengasih lagi maha penyayang, kami panjatkan puju syukur kehadirat-Nya
yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah nya kepada kami sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah tentang
Latar Belakang Berdirinya NU dengan semaksimal mungkin.
Makalah
ini kami susun sebaik mungkin melalui berbagai referensi berupa buku dan
jurnal, dengan harapan semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan,
pengalaman serta memperluas wawasan pagi para pembaca tentang Latar Belakang
Berdirinya NU. Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, sebagai
manusia biasa yang tak mungkin luput dari kesalahan, kami sangat mengharapkan
saran dan keritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Surabaya, 27 September
2017
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
Nahdatul Ulama
adalah salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia. Selama abad ke-19
Indonesia mengalami efek pengaruh Barat yang membawa akibat ganda sekaligus
yaitu perubahan politik dan kemerosotan ekonomi yang semakin buruk.
Keterbelakangan baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa
Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah
kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui
jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal
dengan "Kebangkitan Nasional". Semangat kebangkitan memang terus
menyebar ke mana-mana setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan
ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai
organisasi pendidikan dan pembebasan seperti NU, dan Muhammadiyah.
Nahdlatul Ulama
(NU) merupakan salah satu organisasi sosial keagamaan di Indonesia yang pembentukannya
merupakan kelanjutan perjuangan kalangan pesantren dalam melawan kolonialisme
di Indonesia.
BAB
II
PEMBAHASAN
Nahdlatul
Ulama (NU) sejak kelahirannya merupakan wadah perjuangan untuk menentang segala
bentuk penjajahan dan merebut kemerdekaan negara Republik Indonesia dari
penjajah Belanda dan Jepang, sekaligus aktif melakukan dakwah-dakwahnya untuk
senantiasa menjaga kesatuan negara Republik Indonesia dalam wadah NKRI.
Bagaimana NU dalam peranannya yang begitu besar dalam memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia, mempertahankan keutuhan NKRI dapat dilihat atas latar
belakang lahirnya ormas terbesar di dunia Nahdlatul Ulama (NU).
Pembahasa makalah ini
beranjak dari situasi dunia khususnya dunia Islam yang sedang mengalami
ketertinggalan dengan bangsa Barat. Imperialisme dan kolonialisme dirasakan
sangat menyiksa keadaan umat saat itu. Hal itu menimbulkan berbagai gerakan
pembaruan untuk menyejahterakan umat seperti gerakan pembaruan Jamaluddin Al
Afghani di Mesir, Sayyid Ahmad Khan di India sedangkan di Indonesia sendiri
muncul berbagai organisasi pembaruan umat seperti Budi Utomo (20 Mei 1908), dan
organisasi keislaman seperti Syarikat Islam (11 November 1912), dan
Muhammadiyah (18 November 1912). Di Indonesia sendiri sebenarnya telah terdapat
berbagai pemberontakan melawan kolonialisme termasuk juga dari kalangan
pesantren, yang mana pada saat itu pesantren telah tersebar luas di Indonesia
dan juga menjadi salah satu basis perlawanan terhadap penjajahan Belanda.
Cikal bakal Nahdlatul Ulama berangkat
dari pesantren dan perjuangan akan lahirnya organisasi NU ini tidak bisa lepas
dari sosok tokoh KH Wahab Chasbullah. Kyai Wahab Chasbullah adalah seorang
santri dari KH Hasyim 'Asy' ary Tebu Ireng Jombang. Setelah belajar kurang
lebih 4 tahun beliau diutus untuk menimba ilmu di Makkah pada tahun 1908 yang
pada tahun itu juga bersamaan dengan didirikannya organisasi Budi Utomo. Pada
waktu di Makkah Pada waktu di Makkah KH Wahab ini mendirikan Syarikat Islam
cabang Makkah. Setelah 5 tahun menimba ilmu di Makkah beliau pupang ke
Indonesia dan aktif di organisasi Syarikat Islam bersama KH Mas Mansur yang
bertempat di Surabaya. Bersama KH Mas Mansur pula KH Wahab Chasbullah juga
mendirikan sebuah wadah pergerakan sosial umat untuk membela tanah air yang
dinamakan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916. Organisasi
Nahdlatul Wathan pada perkembangannya berubah nama menjadi Syubbanul Wathan
(Pemuda Tanah Air) pada tahun 1918. Syubbanul Wathan inilah pada periode
selanjutnya melatarbelkangi Gerakan Pemuda Ansor. KH Wahab adalah seorang
pejuang umat yang sangat aktif. Di samping mendirikan Nahdlatul Wathan beliau juga mendirikan
organisasi Nahdlatut Tujjar atau sebuah lembaga Koperasi dagang yang beranggotakan
7 orang Kyai di dalamnya yang bertujuan untuk membantu perekonomian umat di
masa itu. Selain itu pula KH Wahab Chasbullah juga mendirikan forum diskusi
yang diberi nama Tashwirul Afkar / Nahdlatul Fikri. Tashwirul Afkar ini
membahas seputar masalah-masalah agama yang nantinya Tashwirul Afkar /
Nahdlatil Fikri ini menjadi cikal bakal Bahtsul Masail di kalangan NU.
Kembali lagi membahas situasi dunia Islam kala itu.
Ketika runtuhnya kekhalifahan Turki Ustmani dan dikalahkannya kekuasaan Turki
Utsmani di seluruh Hejaz pada masa pemerintahan Syarif Kasim oleh paham
Muhammad bin Abdul Wahab yang dipimpin oleh Ibnu Sa'ud 1924 semenjak saat itu
dunia Islam lebih bernuansa puritan dengan pembaharuan Islam secara frontal.
Kekuasaan Ibnu Saud di Saudi Arabia ini ingin memberlakukan kembali satu kekhalifahan
Islam di seluruh dunia. Akhrinya membuat sebuah pertemuan dengan tokoh-tokoh
Islam dunia dengan mengusung proyek Comite Khilafat. Sebenarnya hal yang
mendasari terbentuknya Nahdlatul Ulama swndiri berawal dari Kongres Islam di Al
Islam di Jogjakarta pada 1925. Ketika itu semua anggota Kongres mewakili
organisasi yang bersifat modernis dan cenderung cocok dengan gerakan purifikasi
islam di Saudi Arabia. Namun dari kalangan pesantren yang diwakili KH Wahab
Chasbullah tidak setuju dengan gerakan purifikasi islam dan antitradisi. Hal
ini wajar karena kebanyakan kalangan pesantren dalam ciri khas islamnya lebih
kental dengan tradisi lama. Kalangan pesantren pula juga tidak dapat diabaikan
begitu saja karwna pesantren di seluruh Indonesia juga ikut berperan dalam
perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Namun akibat perbedaan sikapnya
tersebut kalangan pesantren dikeluarkan dari keanggotaan Kongres dan tidak
diikutsertakan dalam Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam Internasional) 1926
di Makkah.
Akibat dari pengeluaran tersebut KH Wahab Chasbullah
mengadakan pertemuan sendiri gurunya KH Hasyim Asy' ary dan berbagai Kyai di
Jawa dan Madura. Pertemuan itu berada di Kertopaten Surabaya pada tanggal 16
Rajab 1344 H / 31 Januari 1926. Pertemuan itu membahas 3 hal penting yaitu
meresmikan Comite Hejaz sebagai delegasi ke Arab Saudi, membentuk jam'iyyah
wadah persatuan ulama, dan membatasi masa kerja Comite Hejaz.
Misi Comite Hejaz adalah sejumlah permohonan yang
ingin diajukan kepada Raja Saud antara lain:
1. Memohon kebebasan bermadzhab
2. Memohon agar tetap menjaga warisan peninggalan
sejarah yaitu makam Nabi dan sahabat. Karena ketika itu tidak diindahkan akan
menuai kecaman dari uamt Islam seluruh dunia.
3. Memohon agar tarif haji diberitahukan tiap tahun ke
seluruh dunia.
4. Memohon agar seluruh hukum di Hejaz ditulis.
5. Memohon balasan dari Raja Saud.
Yang menjadi delgasi Comite Hejaz
untuk berangkat menemui Raja Saud adalah KH Wahab Chasbullah dan KH Asnawi,
namun tidak jadi berangkat karena tertinggal kapal dan bersamaan dengan musim
haji. KH Wahab Chasbullah mengirim mosi aspirasi kepada Raja Saud melalui
telegram. Dan 2 tahun setelahnya yaitu pada tanggal 10 Mei 1928 / 20 Dzulqo'dah
1346 KH Wahab Chasbullah bersama Syaikh Ahmad Ghonaim berangakt ke Saudi dan
berhasil menemui Raja Saud. Akhirnya Raja Saud pun menjamin kebebasan
bermadzhab khususnya di Makkah dan mengurungkan niat untuk menggusur makam Nabi
dan para sahabat.
Pada pertemuan di Kertopaten Surabaya tersebut selain membahas Comite
Hejaz juga membentuk organisasi sebagai wadah para ulama yang diberi nama
Nahdlatul Ulama. Nama tersebut diusulkan oleh KH Alwi Abdul Aziz, sedangkan
penwntuan lambang diserahkan kepada KH Ridwan Abdullah. Susunan kepengurusan NU
sebagai berikut:
Rais 'Am: KH Hasyim Asy'ari (Jombang)
Wakil Rais: KH Dachlan Achyad (Surabaya)
Katib: KH Abdul Wahab Hasbullah (Surabaya)
Naibul Katib: KH Abdul Halim (Surabaya)
' Awan: KH Alwi bin Abdul Aziz (Surabaya)
Mustasyar: KH Muh. Zubair
Tanfidziyah: H Hasan Bipo
Organisasi Nahdlatul Ulama ini diharapkan sebagai wadah untuk
mengumpulkan para ulama di dalam satu suara. Ketika para ulama telah bersatu
maka para umat pun akan mudah diakomodir sehungga menciptakan masyarakat yang
damai sejahtera. Setelah Nahdlatul Ulama ini terbentuk maka KH Hasyim Asy’ari
mengarang kitab Qanun Asasi (prinsip-prinsip dasar). Kitab ini digunakan
sebagai undang-undang Nahdlatul Ulama dalam melaksanakan tugas-tugas dan visi
misinya.
DAFTAR
PUSTAKA
Bruinessen.
Martin van. 1994. “NU”. Yogyakarta : LKIS Yogyakarta
Haidar, M. Ali, Nahdatul Ulama dan Islam di
Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 1994

